Kamis, 01 September 2016

Semula Raksasa Menakutkan, kini Militer Argentina Impoten

                            A-4R Fightinghawk

Pada bulan Maret 2016, Presiden Barack Obama melakukan kunjungan resmi ke Argentina untuk bertemu presiden terpilih sebagai Mauricio Macri.

Kunjungan itu bukan tanpa kontroversi, bertepatan seperti yang terjadi dengan ulang tahun ke-40 dari kudeta militer 24 Maret 1976 yang membawa Argentina ke tahun kediktatoran yang represif.
Kontroversi lain adalah waktu kunjungan. Fakta bahwa Angkatan Udara Argentina tidak memiliki satupun pesawat tempur operasional yang layak untuk mengawal Air Force One.
Argentina menggrounded sebagian besar pesawat subsonik A-4R Fightinghawk hingga hanya kurang dari setengah lusin dari 33 pesawat yang layak terbang. Pada 2015 Angkatan Udara Argentina menarik 16 pencegat Mirage III dari layanan tanpa pengganti.
Kini Argentina tinggal memiliki total tujuh pesawat tempur operasional dengan kemampuan yang meragukan dan tidak dipercaya untuk menjaga keamanan Air Force One.
Argentina merancang dan membangun pesawat turboprop FMA IA-58 Pucara untuk misi Kontra Pemberontakan dan jet latih bersenjata FMA IA-63 Pampa. Keduanya merupakan pesawat subsonic dan tidak mampu terbang pada ketinggian operasional Air Force One. Akibatnya Angkatan Udara AS mengerahkan empat F-16 untuk  mengawal pesawat kepresidanan tersebut.
Selama Perang Falklands 1982 Argentina mampu menyebarkan beberapa skuadron dengan mungkin total sekitar 120 pesawat tempur yang cukup mampu. Beberapa pesawat di antaranya Mirage III, Mirage V, IAI Daggers ditambah A-4 Skyhawk dan Super Entendards.
Angkatan Laut Argentina menerjunkan kelompok tempur kapal induk dengan pengawalan kuat dari kapal modern dan frigat dan memiliki kekuatan kapal selam yang disegani oleh musuhnya.
Kekuatan-kekuatan ini, khususnya Angkatan Udara Argentina dan sayap penerbangan Angkatan Laut  menimbulkan korban berat pada Royal Navy dan mendapatkan rasa hormat dan kekaguman dari Inggris.
Sekarang, Angkatan Udara Argentina seperti benar-benar telah impotent.  Angkatan Laut telah lama kehilangan kapal induk dan aset permukaannya mendekam karena kekurangan persenjataan, dan Angkatan Darat telah reorientasi terhadap operasi penjaga perdamaian PBB.
Sepertinya tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa militer Argentina dalam kondisi yang sangat miskin yang sebagian karena kegentingan ekonomi mereka ketika  pada 2014 mereka gagal membayar utangnya.
Antara 2012 dan 2013, misalnya, Angkatan Laut Argentina mengalami tiga aib yakni Libertad ARA disita di Ghana karena masalah utang Argentina, ARA Espora terdampar di Afrika Selatan selama 73 hari setelah perbaikan dihentikan karena tagihan yang belum dibayar dan perusak ARA Santisima Trinidad tenggelam di pelabuhan pada tahun 2012.
Dilaporkan tiga kapal angkatan laut mengalami masalah karena kurangnya pemeliharaan dan kesalahan manusia.
Sebagaimana ditulis  Insitute for Defense Studies and Analyses di web resminya selasa 30 Agustus 2016, pada tahun 2014, situasi tidak membaik dan landasan kapal selam ARA Santa Cruz pada tanggal 15 Juni tahun itu menunjukkan bahwa pemeliharaan rutin pada lambung kapal selam sangat minim.
Kapal selam juga kekurangan akut persenjataan, latihan sasaran di angkatan Laut mengandalkan amunisi dari tahun 1950-an.
Meski kekuatan kapal selam telah diaktifkan lagi  tetapi hanya 19 jam dari waktu latihan yang ditetapkan yakni 190 jam.
Angkatan Udara mengalami situasi yang lebih buruk dengan kekurangan akut pesawat layak terbang yang diperparah oleh berkurangnya secara drastis pemeliharaan dan anggaran operasional.

     Argentina Air Force Dassault Mirage III

Pada 2015, tak lama setelah penarikan Mirage III dari layanan, perintah harian mulai 18 Agustus 2015 memotong jam kerja angkatan udara untuk menjadi pukul 08.00 hingga 13. 00 jam dan diberlakukan penjatahan pada makanan dan listrik.
Perintah itu juga mengungkapkan bahwa pesawat yang diambil dari layanan tidak akan menjalani maintenance.
Beberapa upaya untuk menggantikan armada Mirage III  mulai dari pengadaan jet tempu Gripen baru hingga upaya untuk mendapatkan Mirage F.1  dan Kfirs bekas semua gagal dilakukan.
Dalam sebuah langkah yang tidak biasa, pesawat FC-1 yang dibangun China didekati tetapi juga tidak berhasil.
Angkatan Darat mungkin sedikit lebih baik. Mereka menerima upgrade TAM tank menengah dan helikopter Huey yang diperbaharui, tetapi tampaknya akan berorientasi terhadap partisipasi dalam operasi penjaga perdamaian.

Senjata Berpindah ke Geng Kriminal

                             Pucara/Telegraph

Meski situasi putus asa ini sebagian karena masalah ekonomi negara, hubungan tegang antara sipil dan militer juga sangat mempengaruhi situasi ini.

Pada tahun 2006, terungkap bahwa unit intelijen angkatan laut melakukan pengawasan dan menjaga berkas pada beberapa pemimpin serikat, wartawan dan politisi, termasuk Menteri Pertahanan Nilda Garre.
Skandal ini akhirnya menyebabkan, pada tahun 2012 Presiden Cristina Fernandez de Kirchner menarik tidak kurang dari 36 perwira tinggi untuk pensiun.
Selain itu, skandal penyelundupan narkoba pada tahun 2005 memaksa pembersihan terhadap pimpinan Angkatan Udara yang menurunkan citra militer di mata public.
Antara 2004 dan 2013, pengeluaran militer Argentina rata-rata sekitar 0,8 persen dari PDB, menunjukkan militer jauh dari prioritas negara.
Ketegangan antara eksekutif dan militer telah berkontribusi pada penipisan virtual kemampuan negara untuk melindungi wilayah udara dan bahkan melakukan pengawasan yang paling dasar dari domain maritime Argentina yang mencapai luas enam juta kilometer persegi.
Untuk melindungi ruang ini,  mereka hanya memiliki 12 kapal yang kemampuannya meragukan  dan satu pesawat P-3C Orion dengan lima yang lain masuk cadangan  meskipun ada rencana untuk membarui tiga pesawat patroli maritime ini.
Jauh lebih serius, adalah ketidakdisiplinan di militer. Banyak  senapan, amunisi dan bahkan rudal anti-tank TOW menghilang dari gudang persenjataan Argentina dan muncul sebagai sumber utama senjata untuk geng-geng kriminal di Amerika Selatan.
Terpilihnya Presiden Macri menawarkan prospek untuk pembalikan situasi ini. Tetaapi tidak ada pilihan yang mudah. Pada 1 Februari 2016 Macri ditempatkan permintaan prioritas tinggi untuk mesin pengganti dan suku cadang pesawat  A-4R dengan harapan memulihkan armada untuk beberapa derajat.
Namun, jika langkah itupun berhasil  itu hanya menunda masalah.  Pengabaian lebih dari dua dekade berarti hampir seluruh militer menghadapi situasi usang dan ekonomi negara yang sulit tetap akan menjadikan angkatan bersenjata mereka menghadapi situasi yang menakutkan.
Tetapi yang harus dihargai di tengah kesulitan ekstrem Argentina memiliki personil terlatih dan industri senjata dalam negeri yang mampu menghasilkan produk seperti tank TAM, pesawat Pucara dan Pampa, dan korvet MEKO 140A16.
Kombinasi personil terlatih dan kemampuan produksi senjata dalam negeri merupakan suatu pertanda baik untuk pemulihan militer Argentina jika ada dana yang cukup tersedia. Meskipun demikian pedih melihat militer yang dulu sangat berani menantang anggota NATO dalam pertempuran sekarang menjadi impoten.

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar